Langsung ke konten
|

Cyclops: Benteng Alami Lindungi Kota Sentani dan Kota Jayapura

· Jan Hambur

Cyclops: Benteng Alami Lindungi Kota Sentani dan Kota Jayapura

DIKALA pesawat terbang yang Anda tumpangi mendarat di Bandara Internasional Sentani, begitu Anda turun dari pesawat untuk pindah ke Bus yang siap menjemput Anda, sesaat sebelum naik Bus mata Anda akan memandangi Pegunungan Cyclops yang berwarna hijau karena hutan hujan tropisnya. Menyejukkan mata  dan menawan dipandang. 

Pegunungan Cyclops merupakan  blok pegunungan di pantai utara, Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kota Jayapura,   Provinsi Papua.  Pegunungan Cyclops membentang dari arah barat (teluk Tanah Merah di Distrik atau Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura ke arah timur  di teluk Humbolt,  di Kota Jayapura). Blok Pegunungan yang menjulang ini secara geografis dapat dikatakan benteng alam alami yang melidungi wilayah kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura dari gempuran badai Samudera Pasifik. Pegunungan ini pertama kali terungkap ke public dari perjalanan J.S.C. Dumont D’Urvelle pada tahun 1827, ketika ia merapat di bagian pantai utara pegunungan ini. Ia mencatat bahwa gugusan pegunungan massif pertama di daerah bagian barat Pulau New Guinea dan menamakannya sebagai pegunungan Cyclops dan massif kedua di bagian Timur yang diberi nama Bougenfille di PNG. Pegunungan yang berdiri megah di bagian barat ini, bagaikan raksasa, sehingga diberi nama Cyclops. Dalam legenda bangsa Yunani, Cyclops adalah seorang raksasa bermata satu (Fanroyen,1959).

Bentang alam yang merupakan gugusan pegunungan ini, telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Tentunya memiliki alasan yang kuat yang  merupakan keunggulan kawasan ini. Keunggulan flora dan fauna yang endemik (khusus, tidak dimiliki ditempat lain), keragaman  ekosistem seperti hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, hutan sekunder, padang rumput, ekosistem mangrove, fungsi hidrologi (pengatur iklim mikro) serta yang tak kalah penting dan utama dari keunggulan kawasan ini, yaitu pusat diversitas dari evolusi persebaran dan terbentuknya kehidupan flora dan fauna secara alamiah (Nababan, MG, 2014)  

Dijadikan Cagar Alam Cylops

Keunggulan flora dan fauna yang bersifat endemik di kawasan ini, mendorong pemerintah untuk menetapkannya sebagai kawasan Cagar Alam Cyclops yang diresmikan pada tahun 1978 (Sk No 56/Kpt/Um/1978), dan dikukuhkan pada tahun 1987 (melalui SK.No.365/Kpts-II/1987) yang mencakup wilayah seluas 22.500 hektar (ha). Cagar Alam ini kemudian diperluas menjadi 31.479,89 ha pada tahun 2012 melalui SK No.782/Menhut-II/2012.

Benang merah dan strategisnya  memandang, mengolah dan memanfaatkan sumber daya kawasan ini, tentunya memiliki berbagai cara pandang serta pemberian simbol oleh siapapun. Diperlukan pemahaman yang mendalam, karena apapun yang akan dilakukan untuk pengelolaan dan pemanfaatan kawasan ini menjadi tindakan yang bijaksana. Mengemukanya semua tindakan penyelamatan oleh  semua pihak, baik yang sudah berlalu, dan akan dijalani dan berlanjut, semuanya merupakan tindakan atau aksi yang mampu menjaga keberlanjutan daya dukung dan daya tampung kawasan ini, yaitu  keunggulan sumber daya alam keragaman hayati.

 Menurut Encyclopaedia Britannica (2015, yang dimaksudkan dengan keanekaragaman hayati adalah variasi kehidupan yang ditemukan di suatu tempat di bumi. Sedangkan menurut Sudarsono (2005), keanekaragaman hayati adalah segala bentuk variasi mengenai ketersediaan jenis genetik dan keanekaragaman ekosistem. Sedangkan Ani Mardiastuti (1999), keanekaragaman hayati adalah kelimpahan variasi dari berbagai jenis sumber daya alam hayati, baik dari tumbuhan dan hewan  yang adalah ciri  utama kawasan ini.

Belum Diidentifikasi

Kekuatan-kekuatan sosial budaya masyarakat asli (cara memandang alam) dan interaksi sosial budayanya, terutama 5 suku bangsa yang mendiami kawasan ini (Tepra, Mooi, Sentani, Ormu dan Numbay di teluk Humboldt, Kota Jayapura), belum seluruhnya diinventarisasi dan diidentifikasi. Padahal  kekayaan cara memandang alam yang merupakan ekspresi nilai sosial budaya ini sangat strategis dalam pengembangan konsep perlindungan alam yang lestari.  Cara pandang sosial budaya terhadap alam dan interaksi timbal balik manusia dan alam ini terkandung identitas konsep pembangunan keragaman hayati berkelanjutan. 

Kenyataan saat ini, sebagian besar keanekaragaman hayati bumi berada dalam bahaya akibat konsumsi manusia dan aktivitas lain yang mengganggu dan bahkan menghancurkan ekosistem.  Polusi, perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk merupakan ancaman bagi eksistensi keanekaragaman hayati.  Ancaman ini mengalami peningkatan sangat signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tingkat kepunahan spesies.  Para ilmuwan memperkirakan bahwa setengah dari semua spesies di Bumi akan musnah pada beberapa abad berikutnya.  

Oleh karena itu, upaya konservasi sangat diperlukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan melindungi spesies yang terancam punah dan habitatnya. Namun keragaman budaya merupakan  salah satu hambatan utama pembangunan bidang konservasi. Keyakinan umum bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keanekaragaman genetik dari spesies tetap dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya. Di sini letak peran manusia dan budaya yang menjaga dan mempertahankan keberlanjutan habitat dari keragaman hayati itu.

Dengan begini kekuatan sosial budaya masyarakat adat asli yang mendiami dan memiliki ulayat di kawasan ini perlu dan terus ditelusuri tanpa batas waktu. Terutama kekuatan adat yang memiliki kekuatan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya alam kawasan berkelanjutan. Suku bangsa Mooi, salah satu suku bangsa yang menetap di bagian barat kaki gunung Cyclops,  memandang Cyclops dan menyebutnya Debunsru. Debunsru  yang artinya kabut yang turun dari puncak gunung  setiap pagi hari  menutupi lembah atau dusun suku Mooi tempat bermukim.  Begitu juga dengan sebutan  Mooi atau Kumoy yaitu mereka yang hidup di kaki Debunsru yang berselimutkan kabut.

Belum dapat ditelusuri dan didalami pandangan suku-suku lain yang mendiami dan bertalian dengan kawasan pegunungan Cyclops. Semua pemaknaan  setempat untuk Rohbong Holo, Dabonsolo atau Debunsru kini tinggal kenangan akibat perubahan pembangunan dan zaman yang berjalan cepat. Dobonsolo atau Debunsru, masih memiliki  maknanya yang dipahami dan dipraktekan sehari-hari oleh suku-suku bangsa yang mendiami kaki gunung Cyclops. Kehilangan pemaknaan harus diakui karena dominannya  konsep pembangunan fisik yang kuat menyebabkan  akar-akar budaya setempat tenggelam, karena tidak diselami dan diletakkan berdampingan dan seimbang dalam kedudukannya dengan upaya pembangunan yang dijalankan. Seharusnya konsep pembangunan yang berupa  perubahan fisik,  harus tetap memung-kinkan terjaganya pandangan hidup suatu masyarakat tentang alamnya yang berkelanjutan. 

Oleh Tommy A. Wakum

Cari Berita

Semua Berita