Pengantar Redaksi
Hari Senin, 13 Juli 2026, proses pendidikan formal untuk Tahun Ajaran 2026/2027 dimulai untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentu termasuk di wilayah Papua. Namun, Dr. Agus Irianto Sumule, seorang dosen pada Universitas Papua (UNIPA), mengingatkan kita semua akan menurunnya Angka Partisipasi Murni (APM) peserta didik pada semua jenjang pendidikan di Tanah Papua. Dengan berpijak pada data statistik, penulis memperkirakan jumlah anak usia sekolah yang tidak bersekolah di seluruh wilayah Papua akan mencapai 1 (satu) juta orang pada tahun 2030. Lantas, apa usul penulis untuk mengatasi masalah ini? Silakan simak tulisannya di bawah ini. SELAMAT MEMBACA!
PAPUA tengah berjuang menghadapi krisis pendidikan yang mengancam masa depan generasi mudanya. Angka Partisipasi Murni (APM) yang rendah di berbagai jenjang pendidikan menunjukkan bahwa masih banyak anak usia sekolah yang belum mendapatkan hak mereka untuk belajar. Jika tren ini terus berlanjut, diperkirakan jumlah anak usia sekolah yang tidak bersekolah di Papua dapat mencapai lebih dari satu juta orang pada tahun 2030. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah peringatan serius akan hilangnya satu generasi produktif di Papua.
Menjawab tantangan ini, Sistem Sekolah Sepanjang Hari (SSH) hadir sebagai solusi strategis dan mendesak untuk diterapkan di semua Sekolah Dasar (SD) di Papua. Penerapan SSH bukan hanya sekadar menambah jam belajar, melainkan sebuah pendekatan komprehensif yang dirancang untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan secara simultan.
Memperluas Akses dan Mencegah Putus Sekolah
Salah satu manfaat utama SSH adalah kemampuannya untuk memperluas akses pendidikan dan mencegah anak putus sekolah. Di banyak kampung di Papua, anak-anak menghadapi hambatan geografis, kemiskinan, dan keterbatasan fasilitas sekolah. Sekolah yang hanya beroperasi setengah hari dengan dukungan terbatas sering kali tidak cukup kuat untuk mempertahankan minat belajar anak.
Dengan SSH, sekolah bertransformasi menjadi pusat pembinaan anak sepanjang hari. Lingkungan yang aman, terstruktur, dan produktif ini memastikan anak-anak tidak hanya belajar beberapa jam, tetapi terlibat dalam proses pembelajaran yang lebih intensif dan bermakna. Hal ini secara signifikan menekan risiko putus sekolah dan memperkuat ikatan emosional anak dengan institusi pendidikan.
Meningkatkan Mutu Melalui Penguatan Literasi
SSH membuka peluang untuk penguatan enam literasi esensial: literasi baca tulis, matematika, sains, digital, finansial, serta kewarganegaraan dan kebudayaan. Anak-anak Papua perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital untuk beradaptasi dengan era teknologi, literasi finansial untuk mengelola keuangan sederhana, dan pemahaman mendalam tentang kewarganegaraan serta penghargaan terhadap budaya lokal. Waktu belajar yang lebih panjang memungkinkan pembelajaran yang lebih mendalam, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Mendukung Gizi dan Kesehatan Anak
Permasalahan gizi yang dihadapi banyak anak di Papua berdampak langsung pada kemampuan belajar mereka. SSH dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dengan menyediakan makanan bergizi tiga kali sehari di sekolah. Bagi sebagian anak, sekolah menjadi satu-satunya tempat yang dapat menjamin asupan makanan bergizi. Anak yang sehat dan kenyang akan lebih fokus, aktif, dan siap menyerap pelajaran, sehingga SSH tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tetapi juga memperkuat fondasi kesehatan generasi muda Papua.
Fondasi Wajib Belajar Pendidikan Menengah
Undang-Undang Otonomi Khusus Papua mengamanatkan setiap penduduk untuk menempuh pendidikan minimal hingga tingkat Sekolah Menengah. Untuk mewujudkan amanat ini, penguatan pendidikan dasar melalui SSH di tingkat SD menjadi krusial. SSH dapat menjadi batu loncatan untuk pengembangan SMP, SMA, atau SMK di tingkat kampung, didukung oleh guru pendamping berkualitas dan pemanfaatan sumber belajar digital. Dengan demikian, SSH membangun jalur pendidikan yang berkelanjutan hingga jenjang menengah.
Penerapan SSH membutuhkan dukungan infrastruktur dasar seperti air bersih, listrik, dan internet. Kebutuhan ini akan mendorong prioritas pembangunan infrastruktur di seluruh SD di Papua. Pembangunan infrastruktur sekolah ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Kehadiran internet di sekolah juga memungkinkan akses informasi medis bagi kader kesehatan, konsultasi dengan tenaga medis profesional, dan membuka akses informasi pasar serta teknik produksi bagi masyarakat. Literasi finansial yang diajarkan di sekolah juga dapat memengaruhi pola pengelolaan keuangan keluarga. Dengan demikian, SSH berperan sebagai motor penggerak transformasi sosial-ekonomi berbasis pendidikan.
Kesimpulan
Sistem Sekolah Sepanjang Hari adalah fondasi utama pembangunan manusia di Papua. Dengan pendekatan komprehensif yang menyatukan perluasan akses, peningkatan mutu, pemenuhan gizi, penguatan literasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung, SSH bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan strategi pembangunan jangka panjang. Dengan menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan belajar sepanjang hari, Papua berinvestasi pada generasi yang sehat, terdidik, melek teknologi, berkarakter, dan siap membawa daerahnya menuju kemajuan. Inilah alasan mendasar mengapa SSH harus menjadi agenda prioritas untuk masa depan Papua.
Oleh: Dr. Agus Irianto Sumule, Dosen Universitas Papua