Langsung ke konten
|

Irian Jaya Memiliki Areal Sagu Seluas 4 Juta Hektar

· Jan Hambur

Irian Jaya Memiliki Areal Sagu Seluas 4 Juta Hektar

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026, Redaksi menurunkan kembali tulisan yang pernah dimuat dalam Buletin Kabar dari Kampung (KdK) edisi cetak No. 71/Th.XIII, Juni 1995. Tujuannya agar kita memahami bahwa sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Irian Jaya yang kini berubah nama menjadi PAPUA.

Salah satu sumber daya alam (SDA) yang potensial di Irian Jaya adalah sagu. Tanaman jenis ini dalam istilah ilmiahnya dikenal dengan nama Metroxylon spp. Benny W.A. Mambrasar yang mengutip pendapat Ruddle dan Yoshida mengemukakan, tanaman sagu terdiri atas dua jenis atau spesies, yakni Metroxylon spp. dan Metroxylon rumphii (1984:16).

Sagu jenis Metroxylon rumphii mempunyai ciri: memiliki bulu atau duri daun yang besar dan kasar. Di daerah lainnya, ternyata dijumpai Metroxylon rumphii yang tinggi pohonnya mencapai 10 meter. Di daerah yang hanya ditumbuhi sagu jenis Metroxylon rumphii, umur 15 tahun merupakan batas terminal. Pada masa ini, pohon sagu tidak bertepung sagu lagi melainkan mati kering. Sedangkan diameter untuk satu pohon tunggal adalah antara 65–70 cm.

Metroxylon rumphii  tumbuh subur di daerah tropis berawa yang sejuk dan lembap. Selain itu, tanaman ini juga tumbuh di daerah beriklim tropis yang keadaan tanahnya cocok (berpayau atau berawa) sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan pohon sagu. Hal ini juga membantu mempermudah penyebarannya bila dibandingkan dengan jenis tanaman jangka panjang lainnya.

Di daerah pesisir atau di tepi laut, termasuk sejumlah pulau seperti di Raja Ampat, hutan sagu biasanya terdapat di sekitar atau belakang pemukiman penduduk sebagai tanaman rakyat. Tanah tempat tumbuhnya sagu keadaannya berair payau atau rawa (slobar).

Luas Areal Sagu IRJA Versi Departemen Kehutanan

Menurut data pada Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Provinsi Irian Jaya, lahan tanaman sagu yang terdapat di Provinsi Irian Jaya seluas 1.474.181 hektar. Wilayah penyebaran dan luasnya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1: Daerah Sebaran Sagu di Provinsi Irian Jaya

NoDaerahLuas (dalam Hektar)
1Jayapura147.772,8 Hektar
2Yapen Waropen75.223,2 Hektar
3Paniai9.500,0 Hektar
4Biak-Numfor8.000,0 Hektar
5Manokwari82.852,8 Hektar
6Sorong381.332,5 Hektar
7Fakfak228.000,0 Hektar
8Merauke543.500,0 Hektar
Total 1.474.181,3 Hektar*

Sumber: Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya

Jika jarak tumbuh sagu dalam satu hektar adalah 5 meter x 5 meter = 25 m2, maka dalam satu hektar akan terdapat pohon sagu yang siap dipanen sebanyak 100 meter x 100 meter : 25 m2 = 400 batang sagu.

Karena luas areal sagu di Irian Jaya menurut Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya saat ini adalah 1.474.181,3 hektar, maka jumlah pohon sagu yang tumbuh di dalam areal itu sebanyak:

1.474.181,3 x 400 pohon = 589.672.520 pohon sagu.

Luas Areal Sagu IRJA Versi BPPT

Data luas areal sagu di Irian Jaya yang terdapat pada Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Provinsi Irian Jaya itu ternyata berbeda jauh dengan data pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang meneliti tentang sagu di Inanwatan tahun 1987.

Menurut hasil penelitian lembaga yang menyandang nama besar itu, luas areal sagu di Irian Jaya saat ini mencapai 4.279.150 hektar.

Tabel 2: Luas Areal Hutan Sagu di Irian Jaya

NoDaerah SebaranLuas (Hektar)
1Merauke3.569.130 Hektar
2Fakfak369.640 Hektar
3Jayapura36.670 Hektar
4Serui88.020 Hektar
5Sorong 1)81.810 Hektar
6

Sorong 2)


 

a. Bintuni


 

b. S. Kamundan


 

c. Inanwatan


 

50.200 Hektar


 

68.050 Hektar


 

6.200 Hektar

7Manokwari11.330 Hektar
8Biak Numfor6.500 Hektar
Total 4.279.150 Hektar*

Sumber: Manan dan Supangkat (1988); BPP Teknologi (1987) khusus meneliti di Kecamatan Inanwatan.

Jika jarak tumbuh sagu dalam masing-masing hektar adalah 5 meter x 5 meter = 25 m2, maka dalam satu hektar akan terdapat pohon sagu sebanyak 100 meter x 100 meter : 25 m2 = 400 pohon sagu.

Menggunakan basis data luas total riil sebesar 4.279.150 hektar, maka perkiraan jumlah total pohon sagu yang tumbuh adalah:

4.279.150 x 400 pohon = 1.711.660.000 pohon sagu.

Bagaimana BPPT melakukan penelitiannya sehingga sampai kepada kesimpulan bahwa luas areal sagu di Irian Jaya sebanyak 4 juta hektar lebih, memang agak sulit diketahui. Namun, hasil penelitian ini menggembirakan hati kita semua. Paling tidak bagi pemerintah daerah Tingkat I dan II di Provinsi Irian Jaya, karena potensi sagu sebanyak itu dapat menjadi sumber dana bagi kelangsungan pembangunan di daerah ini.

Menurut perhitungan seorang ilmuwan asal negeri Belanda, Professor Dr. Flach, dalam satu batang sagu mengandung 500 kg tepung sagu basah. Atau kalau tepung sagu itu menjadi kering, maka akan mengandung 150 kg sagu kering. Kalau potensi 1.711.660.000 pohon sagu itu diolah secara serentak, maka kita akan mendapatkan tepung sagu sebanyak:

1.711.660.000 pohon x 500 kg per pohon = 855.830.000.000 kg sagu basah.

Penduduk Irian Jaya berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1990 berjumlah 1.648.708 jiwa. Jika dikelompokkan ke dalam keluarga, maka banyaknya Kepala Keluarga (KK) yang ada di Irian Jaya saat ini adalah 333.467 KK. Menurut pengalaman para peramu dan pemakan sagu, satu KK dapat menghabiskan satu pohon sagu dalam satu bulan.

Jika seluruh keluarga yang ada di Irian Jaya ini tiap bulan makan sagu (tanpa harus konsumsi beras), itu berarti selama satu bulan akan menghabiskan sagu sebanyak:

333.467 x 1 pohon sagu sebulan = 333.467 pohon sagu.

Artinya, persediaan sagu sebanyak itu baru akan habis dalam waktu sekitar:

1.711.660.000 : 333.467 x 1 bulan = 5.132 bulan (atau sekitar 427 tahun).

Pengandaian ini belum tentu seluruhnya benar, karena tidak semua penduduk Provinsi Irian Jaya adalah pemakan sagu. Tetapi, paling tidak ini hendak menunjukkan bahwa potensi sagu di Irian Jaya sangat besar. Potensi sagu sebesar itu, hingga saat ini memang belum memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi peningkatan dan percepatan pembangunan di Irian Jaya.

Pemanfaatannya baru sampai pada pemenuhan kebutuhan masyarakat petani sagu yang mereka olah dalam bentuk papeda (tepung sagu ditempatkan dalam sebuah wadah misalnya loyang, lalu disiram dengan air panas, kemudian diaduk-aduk sehingga menjadi bubur papeda yang siap disantap) dan sagu bakar (tepung sagu dicampur dengan kelapa yang sudah diparut dan juga gula merah yang sudah diparut. Ketiga bahan itu dicampur hingga menyatu lalu diisi ke dalam sebuah bambu atau wadah apa saja, kemudian dibakar dalam bara tungku api hingga masak).

Kalau pun ada pengusaha HPH sagu di daerah Bintuni, kapasitas produksinya masih sangat terbatas sehingga penghasilan yang didapat dari kegiatan itu tidak cukup tinggi. Selain itu, kendala yang biasa dihadapi adalah tempat pemasaran tepung sagu yang masih terbatas.

Tetapi kelak, kalau ada pengusaha besar yang menginvestasikan modalnya dalam bisnis tepung sagu dan didukung banyak permintaan pasar, maka hal ini akan mendatangkan modal yang sangat tinggi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di Irian Jaya. Misalnya, para pengusaha membeli tepung sagu dari masyarakat lalu dibayar dengan harga yang memadai.

Agar sagu milik masyarakat itu tidak cepat musnah, maka aparat pemerintah maupun instansi terkait lainnya perlu mendorong masyarakat peramu sagu untuk melakukan budidaya sagu di tanah adatnya sendiri. Dengan begitu, penghasilan masyarakat peramu sagu menjadi pasti dan pertumbuhan sagu akan berkelanjutan. Itu berarti pula mendorong percepatan pembangunan di daerah ini, sehingga Provinsi Irian Jaya menjadi sejajar dengan provinsi lainnya di Indonesia.

(Jan Hambur, Redaktur Pelaksana KdK)

Cari Berita

Semua Berita