Langsung ke konten
|

Ketapang Ditebang: Pertarungan Antara Logika Tradisional VS Logika Ilmiah

· Jan Hambur

Ketapang Ditebang: Pertarungan Antara Logika Tradisional VS Logika Ilmiah

Pohon Ketapang yang dalam Bahasa Latinnya dinamakan Terminalia Catappa, tumbuh dan berkembang secara alamiah di berbagai wilayah di Papua dan Indonesia pada umumnya. Pohon Ketapang jenis ini juga tumbuh dan berkembang tak terkendalikan hingga menjadi pohon rindang dan besar di bagian kiri depan pintu gerbang masuk ke Kantor YPMD IRJA. Perkembangannya merisaukan hingga akhirnya ditebang oleh tim PT Aka Rifai Papua (PT ARP) pada hari Kamis 14 Maret 2026 lalu. 

Penebangan ini dilakukan atas permintaan YPMD IRJA. Hal itu terpaksa dilakukan karena salah satu cabangnya yang berdiameter 40 cm, menjulur ke arah timur hingga mencapai atap Kantor YPMD IRJA khususnya atap ruangan Perpustakaan YPMD IRJA.

Kenyataan ini menimbulkan kekuatiran pada YPMD IRJA karena pohon sukun yang juga tumbuh secara alamiah di sebelah utara dengan jarak 5 meter dari bangunan rumah  makan tumbang pada 31 Maret 2025 lalu. Tepat pada hari pertama lebaran tahun 2025. Kejadian tersebut diawali dengan turunnya hujan lebat yang disertai angin kencang, sehingga pohon sukun yang berdaun lebat itu tumbang mengobrak-abrik rumah makan di depannya. Bangunan berukuran 8 meter x 5 meter ini biasanya dijadikan sebagai tempat makan siang pimpinan dan staf YPMD pada hari-hari kerja. Akibatnya bangunan itu belum dapat digunakan lagi.

Logika Tradisional 

Jauh sebelum rencana pohon Ketapang ini ditebang, masyarakat di sekitarnya dan bahkan masyarakat yang lalu Lalang di jalan umum di bawahnya mengetahui bahwa pohon Ketapang yang tumbuh hingga sebagian besar Kantor YPMD tidak terlihat dari jalan umum mengetahui dihuni makhluk roh-roh liar. Kesimpulan mereka berdasarkan pengalaman dan dan pengetahuan dari budaya mereka masing masing. 

Apa yang disampaikan masyarakat tersebut, sepertinya diperkuat oleh beberapa informan lainnya terutama dari orang-orang yang mempunyai Karunia Penglihatan dan karunia bisa bercakap dalam bahasa roh. Tahun 2020 lalu, mama Rawar yang mempunyai Karunia penglihatan dan bertandang ke Kantor YPMD untuk bertemu dengan anak perempuannya yang menjadi karyawati pada PT Kakao Kita Papua (PT KKP) melihat seorang perempuan yang berwujud roh sedang duduk santai dan mengayun-ayunkan kakinya pada siang dan sore hari pada cabang pohon Ketapang tersebut. “Eh ada Perempuan (roh) yang duduk santai di pohon Ketapang itu,” tuturnya kepada orang-orang YPMD yang ada di dekatnya.

Kesaksiannya diperkuat oleh beberapa anak usia 4-5 tahun yang juga mempunyai mata alias penglihatan yang bagus. “Ada nene (nenek) yang duduk dan tinggal di pohon Ketapang itu,” tutur mereka. Sang nenek yang tampaknya sudah mendengar rencana YPMD untuk menebang pohon Ketapang, maka 1 minggu sebelum ditebang 14 Maret 2026, masuk dalam tubuh ibu Delila yang rumahnya berjarak sekitar 10 meter dari pohon Ketapang. Ibu Delila tinggal dengan suami dan dua orang anak mereka. 

Pada malam itu, ibu Delila tiba-tiba merasa kurang fit dan karenanya ingin cepat pergi tidur. Tak lama kemudian, ia berteriak ‘panas, panas!”. Suami dan beberapa ibu lainnya membantu mengusir makhluk halus itu dengan berdoa dan berdoa sambil bertanya ‘Kamu siapa.” Dengan suara berat seperti suara Perempuan barat dia menjawab. ‘Saya Sisil Perempuan Belanda  dan 1 minggu lagi rumah saya akan dibongkar / ditendang makanya saya masuk tinggal di ibu ini.” Tidak bisa, kau harus cari dan tinggal di rumah mu yang baru, bukan di sini.” Setelah terjadi tawar menawar, dan masih dalam suasana berdoa, akhirnya ibu Delila menjadi siuman dan sehat Kembali.

Pengetahuan akan adanya roh-roh yang bergentayangan di sekitar kita, bukan hanya ada dan tumbuh di Papua maupun di Indonesia tetapi juga pada semua masyarakat adat di semua negara. Termasuk pada masyarakat Yahudi. 

Logika Ilmiah

Keputusan untuk mengeksekusi pohon Ketapang yang tumbuh di depan Kantor YPMD juga karena adanya kekuatiran para pengguna ruangan kerja di YPMD sehingga mereka tidak mau memarkirkan kendaraannya di halaman depan Kantor YPMD. Selain itu YPMD juga harus memberikan perhatian khusus untuk membersihkan halaman depan karena setiap hari dan terutama pada musim gugur, daunnya yang sudah menguning dan tak berfungsi lagi untuk mengolah Karbon Dioksida menjadi oksigen berguguran dan bertebaran di halaman depan Kantor YPMD.

Makanya ketika pohon Ketapang mulai ditebang, belasan orang memperhatikan bagaimana PT ARK melakukanya. Pasalnya mereka tidak menggunakan peralatan modern melainkan menggunakan cara manual sebagaimana biasa dalam masyarakat pada umumnya. Dua orang stafnya dengan berbekalkan Chainsaw standart naik ke pohon  Ketapang dan mulai memotongnya dari cabang bagian luarnya. Lalu dilanjutkan dengan memotong cabang cabangnya yang dengan ukuran panjang 50 – 90 cm. Ketika mereka memotong pohon induknya yang berdiameter 120 cm pada ketinggian 2 meter dari tanah, maka keluarlah air dalam jumlah banyak dari dalam pohon induknya. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan dan spekulasi pada orang-orang yang memperhatikannya. ‘Air itu dari mana?”

Namun dari sisi logika ilmiah, sah-sah saja kalau pohon Ketapang menyedot dan menyimpan banyak air pada batang induknya. Apalagi pohon Ketapang ini tumbuh tepat di pinggir sungai kecil yang mengalir dari utara melewati depan Kantor YPMD lalu terus mengalir ke arah selatan hingga ke Teluk Yotefa. Itu sebabnya pohon Ketapang ini tumbuh subur dan cabang cabangnya melebar ke berbagai arah di sekitarnya. Selain pohon jenis ini, juga pohon Beringin dapat menyedot banyak air bila tumbuh di pinggir Sungai.

Pohon ketapang adalah salah satu tanaman yang tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Papua. Begitu pula dengan keberadaan pohon ketapang di depan kantor YPMD IRJA, yang secara ekologis, dikenal sebagai tanaman peneduh, memiliki daun yang lebar, mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sehingga membantu menjaga kualitas udara. Akar ketapang bertugas menjaga keseimbangan air pada daerah aliran sungai atau pinggiran pantai  oleh gelombang laut. Di sisi lain, masyarakat memiliki pandangan tradisional terhadap pohon tersebut sebagai tempat bernaung roh leluhur atau makhluk alam lain.

Perbedaan cara pandang ini menunjukkan adanya dua pendekatan dalam memahami alam, dimana logika ilmiah menekankan pada fakta, penelitian, dan manfaat nyata yang dapat diukur, sementara logika tradisional lebih menitikberatkan pada nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan hubungan spiritual antara manusia dan alam.

Meskipun berbeda dalam cara pandang, namun tidak selalu bertentangan tetapi keduanya dapat saling melengkapi dalam upaya pelestarian lingkungan. ILmiah memberikan dasar pengetahuan yang kuat, sedangkan tradisional memperkuat kesadaran dan rasa hormat masyarakat terhadap alam. Perpaduan antara kedua cara pandang ini, menjadi kekuatan dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya di Papua yang masih kuat dengan nilai-nilai adat, ( PM, MS dan JH ). 

Cari Berita

Semua Berita